1

Sejarah Pembuahan Berbantu dan Pembuahan Di Luar Rahim (IVF)

Pembuahan di luar rahim (IVF) pertama kali dimulai dalam tahun 1960-an oleh ilmuwan Robert Edwards dan ginekolog Patrick Steptoe, yang merupakan kolega di King’s College, London. Para ilmuwan sudah bereksperimen dengan pembuahan hewan di luar tubuh pada saat itu dengan hasil yang memuaskan. Kemudian Edwards dan Steptoe berpikiran bahwa IVF akan sangat menguntungkan pasangan yang memiliki masalah dengan pembuahan.

Karena praktik seperti itu dianggap controversial pada saat itu, Edwards dan Steptoe mengalami kesulitan untuk membuat riset mereka diakui, apalagi didanai. Tidak terpengaruh, kedua orang tersebut mendirikan pangkalan di Oldham, Inggris, di mana mereka berhasil membantu kelahiran bayi perempuan IVF yang pertama, Louise Brown dalam tahun 1978. Bayi laki-laki IVF yang pertama, Alaistair Macdonald, dilahirkan pada tahun berikutnya.

Para wanita yang berpartisipasi di dalam IVF pada saat itu disumpah untuk memegang rahasia demi keselamatan mereka sendiri, karena prosedurnya masih dianggap terlalu radikal untuk masyarakat umum. Berbagai cerita keberhasilan menciptakan banyak kegembiraan di kalangan dunia medis, dan beberapa rumah sakit lain di Australia dan Amerika Serikat segera menjadi popular dalam tahun 1980 dan 1981. Akan tetapi, pengobatan tersebut sangat mahal, dan hanya sedikit sekali orang yang mampu membayarnya.

Bahkan dengan usaha-usaha yang terbaik, tingkat keberhasilan hanya 12%, sehingga beberapa usaha IVF harus dilakukan sebelum mencapai kehamilan yang berhasil. Para wanita juga harus tinggal di rumah sakit selama dua minggu supaya dokter dapat memantau tingkat hormon mereka melalui tes urin, dan mengambil berbagai posisi fisik yang aneh selama berjam-jam setelah pemanenan telur. Meskipun demikian, minat untuk itu sangat besar, dengan daftar tunggu yang panjang di antara para pasangan yang rindu memiliki bayi.

Sekarang, lebih dari lima juta bayi IVF telah dilahirkan di seluruh dunia. Proses pengobatan tersebut ramah-pasien, di mana para wanita hanya perlu melakukan prosedur-prosedur harian alih-alih tinggal di bangsal. Satu kali prosedur pemanenan telur dapat menghasilkan embrio yang cukup untuk beberapa kali kehamilan, dengan adanya pembekuan cryo.

Dengan kemajuan medis, tingkat keberhasilan pun meningkat. Di pusat-pusat yang sudah mapan seperti TMC Fertility Centre, tingkat keberhasilannya adalah 65%. Teknologi-teknologi yang sangat canggih sekarang ini juga dapat membantu pasangan meningkatkan kemungkinan kehamilan dan mendeteksi ketidaknormalan kromosom sebelum implantasi embrio.